LAPORAN
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU PADA TANAMAN PADI (Oryza Sativa)
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi Robbi karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “LAPORAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
TERPADU PADA TANAMAN PADI (Oryza sativa)”,
laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengelolaan
Hama dan Penyakit Terpadu.
Kami menyadari bahwa selama penulisan
banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Bapak Dr. Ir. H. Cecep Hidayat, MP dan
Ibu Yati Setiati, MP.,
selaku dosen mata kuliah yang telah membantu penulis selama menyusun laporan
ini;
2.
rekan-rekan seangkatan yang telah
memotivasi kami untuk menyelesaikan penyusunan laporan ini;
3.
semua pihak yang tidak bisa penulis
sebutkan satu persatu.
Laporan ini bukanlah karya yang sempurna
karena masih banyak kekurangan, baik dalam hal ini maupun sistematika dan
teknik penulisannya. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun dalam penyempurnaaan laporan ini. Semoga laporan ini
memberikan manfaat bagi kita semua. Amiin.
Bandung, Oktober 2014
Penulis
DAFTARISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Perumusan Masalah
1.4 Batasan Masalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Hama, Penyakit dan Pengelolaan Hama dan Penyakit
Terpadu
2.1.1 Pengertian Hama
2.1.2 Pengertian Penyakit
2.1.3 Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu
2.2 Tanaman Padi
2.2.1 Sejarah
2.2.2 Klasifikasi
2.2.3 Morfologi
2.2.4 Syarat Tumbuh
2.2.5 Budidaya Tanaman Padi
2.3 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Padi
2.3.1 Hama Tanaman Padi
2.3.2 Penyakit Tanaman Padi
BAB III METODE KUNJUNGAN LAPANGAN
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Metode Pengamatan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Hama Tanaman Padi
4.1.2 Penyakit Tanaman Padi
4.2 Pembahasan
4.2.1 Hama Tanaman Padi
4.2.2 Penyakit Tanaman
4.2.3 Konsep PHPT di Lapangan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Peningkatan produksi padi terus diupayakan untuk mengimbangi
kenaikan konsumsi, Karen pertumbuhan jumlah penduduk masih tinggi. Hama dan
penyakit adalah salah satu kendala program peningkatan produksi padi. Kendala
peningkatan produksi akan semakin kompleks akibat perubahan iklim global.
Hama dan penyakit tanaman padi merupakan salah satu cekaman biotik
yang menyebabkan senjang hasil antara potensi dan hasil actual, dan juga
menyebabkan produksi stabil.
Untuk meningkatkan produksi padi secara berkelanjutan, khususnya
melaluin peningkatan stabilitas hasil, masih berpeluang melalui : (1)
penggunaan sumber daya genetik untuk perbaikan ketahanan varietas terhadap hama
dan penyakit; (2) peningkatan peran musuh alami hama dan penyakit sebagai agen
pengendali hayati; (3) pemanfaatan berbagai spesies tanaman yang potensial
sebagai pestisida nabati yang efektif dan ramah lingkunga; (4) penyempitan
kesenjangan antara potensi hasil (hasil pada saat varietas dilepas dengan hasil
yang dicapai petani; (5) penekanan kehilangan hasil prapanen oleh hama dan
penyakit masih di atas 15%; (6) peningkatan pemahaman epidemiologi penyakit dan
ekologi hama yang akan menghasilkan komponen teknologi baru Pengendalian Hama
Terpadu (PHT).
Maka dalam laporan ini diuraikan hama dan penyakit yang menerang
tanaman padi dan konsep, implementasi penerapan konsep PHT di Indonesia
khususnya di daerah yang kami observasi.
1.2
Identifikasi Masalah
Untuk mengendalikan hama dan
penyakit yang menyerang tanaman padi yaitu dengan menggunakan pengelolaan hama
dan penyakit secara terpadu (PHPT). Untuk itu penulis ingin mengetahui sejauh
mana konsep PHPT digunakan para petani tanaman padi di lapangan dan
mengidentifikasi hama dan penyakit yang menyerang serta pengendaliannya.
1.3
Perumusan Masalah
Permasalahan utama yang diangkat
dalam laporan ini adalah:
1. Apa saja hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi.
2. Bagaimana penerapan konsep PHPT dalam budidaya tanaman padi
di lapangan.
1.4
Batasan Masalah
Adapun batasan maslah pada laporan
ini adalah:
1.
Hanya membahas hama dan
penyakit pada tanaman padi serta penerapan konsep PHPT.
2.
Tidak membahas budidaya
tanaman padi secara keseluruhan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Hama,
Penyakit dan Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu
2.1.1
Pengertian Hama
Hama tumbuhan adalah organisme yang menyerang tumbuhan
sehingga pertumbuhan dan perkemabanganya terganggu. Hama yang menyerang
tumbuhan antara lain tikus, walang sangit, wereng, tungau, dan ulat. “Yang
dimaksud dengan hama ialah semua binatang yang mengganggu dan merugikan tanaman
yang diusahakan manusia” (Pracaya, 2003: 5). “Hama tanaman sering disebut
‘serangga hama’ (pest) atau dalam
dunia pertanian dikenal sebagai ‘musuh petani’” (Rukmana, 2002:14). Para
ahli pertanian membuat beberapa versi pengertian (definisi) hama tanaman,
diantaranya sebagai berikut:
1. Organisme “jahat” yang mempunyai
kemampuan untuk merusak, mengganggu, atau merugikan organisme lainnya (inang);
2. Organisme yang “memusuhi”
(merugikan) kesejahteraan manusia;
3. Setiap spesies organisme yang dalam
jumlah besar tidak kita kehendaki kehadirannya;
4. Organisme yang merugikan dari segi
andangan manusia;
5. Organisme hidup yang merupakan
saingan kita dalam memenuhi kebutuhan pangan dan pakaian, ata menyerang kita
secara langsung.
2.1.2
Pengertian Penyakit
“Tanaman dikatakan sakit bila ada perubahan seluruh atau
sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologis
sehari-hari. Secara singkat penyakit tanaman adalah penyimpangan dari keadaan
normal” (Pracaya, 2003: 320). Suatu tanaman dapat dikatakan sehat atau normal
jika tanaman tersebut dapat menjalankan fungsi-fungsi fisiologis dengan baik,
sepertipembelahan dan perkembangan sel, pengisapan air dan zat hara,
fotosintesis dan lain-lain. Gangguan pada proses fisiologis atau fungsi-fungsi
tanaman dapat menimbulkan penyakit.
Rahmat Rukmana dan Sugandi Saputra (2005: 11) menyatakan,
Penyakit tanaman adalah sesuatu yang menyimpang dari keadaan normal, cukup
jelas menimbulkan gejala yang dapat dilihat, menurunkan kualitas atau nilai
ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama. Tanaman sakit adalah
suatu keaadaan proses hidup tanaman yang menyimpang dari keadaan normal dan
menimbulkan kerusakan. Makna kerusakan tanaman adalah setiap perubahan pada
tanaman yang menyebabkan menurunya kuantitas dan kualitas hasil.
2.1.3
Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu
Pengendalian
hama terpadu (PHT) adalah sebuah pendekatan dalam
pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan mempertimbangkan semua
aspek manajemen budidaya untuk mempertahankan serangan hama dan
penyakit dibawah ambang batas kerugian ekonomis. Aspek
pengelolaan termasuk budidaya, lingkungan fisik, biologi, perilaku
pengelola dan bahan kimia. Dengan PHT, efek
samping dari pestisida diminimalkan dan keuntungan ekonomi
dipertahankan. Program PHT menggunakan informasi yang ekstensif, yang
dikumpulkan dalam sistem penanaman dan memerlukan pengelolaan yang
cermat.
2.2
Tanaman Padi
2.2.1
Sejarah
Padi
termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies,
tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika
dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza
fatua koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua
Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii roschev dan
Oryza glaberima steund berasal dari Afrika barat. Padi yang ada
sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza
sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan
didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha
memantapkan hasil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya
kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialahIndica,
sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.
2.2.2
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super
Divisi
: Spermatophyta
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Sub
Kelas : Commelinidae
Ordo
: Poales
Famili
: (suku
rumput-rumputan)
Spesies
: Oryza sativa L.
2.2.3
Morfologi
1.
Akar
Berdasarkan
literatur Aak (1992) akar adalah bagian tanaman yang berfungsi menyerap air
danzat makanan dari dalam tanah, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman. Akar
tanaman padi dapat dibedakan atas :
a.
Radikula
Akar yang tumbuh pada saat benih
berkecambah. Pada benih yang sedang berkecambah timbul calon akar dan batang.
Calon akar mengalami pertumbuhan ke arah bawah sehingga terbentuk akar
tunggang, sedangkan calon batang akan tumbuh ke atas sehingga terbentuk batang
dan daun.
b.
Akar
serabut(adventif)
Setelah 5-6 hari terbentuk akar
tunggang, akar serabut akan tumbuh.
c. Akar rambut
Merupakan bagian akar yang keluar
dari akar tunggang dan akar serabut. Akar ini merupakan saluran pada kulit akar
yang berada diluar, dan ini penting dalam pengisapan air maupun zat-zat makanan.
Akar rambut biasanya berumur pendek sedangkan bentuk dan panjangnya sama dengan
akar serabut.
d.
Akar
tajuk (crown roots)
Akar yang tumbuh dari ruas batang
terendah. Akar tajuk ini dibedakan lagi berdasarkan letak kedalaman akar di
tanah yaitu akar yang dangkal dan akar yang dalam. Apabila kandungan udara di
dalam tanah rendah,maka akar-akar dangkal mudah berkembang.
Bagian
akar yang telah dewasa (lebih tua) dan telah mengalami perkembangan akan
berwarna coklat, sedangkan akar yangbaru atau bagian akar yangmasih muda
berwarna putih.
2.
Batang
Padi
termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang
tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua
ujung bubung kosong itu bubungnya ditutup oleh buku. Panjangnya ruas tidak
sama. Ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas
yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih panjang daripada ruas yang
didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas tumbuh daun pelepah yangmembalut
ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagian atas ujung dari daun
pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi lidah
daun (ligula), dan bagian yamg terpanjang dan terbesar menjadi daun
kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan
kanan. Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari
batang disebut daunbendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadiligula dan
daun bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir padi.
Pertumbuhan
batang tanaman padi adalah merumpun, dimana terdapat satu batang tunggal/batang
utama yang mempunyai 6 mata atau sukma, yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah kanan dan
sukma 2, 4, 6 sebelah kiri. Dari tiap-tiap sukma ini timbul tunas yang
disebut tunasorde pertama.
3.
Daun
Padi
termasuk tanaman jenis rumput-rumputan mempunyai daun yang berbeda-beda, baik
bentuk, susunan, atau bagian bagiannya. Ciri khas daun padi adalah adanya sisik
dan telinga daun. Hal inilah yang menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari
jenis rumput yang lain. Adapun bagian-bagian daun padi adalah :
a.
Helaian
daun
Terletak pada batang padi dan selalu
ada. Bentuknya memanjang seperti pita. Panjang dan lebar helaian daun
tergantung varietas padi yang bersangkutan.
b.
Pelepah
daun (upih)
Merupakan bagian daun yang
menyelubungi batang, pelepah daun ini berfungsi memberi dukungan pada bagian
ruas yang jaringannya lunak, dan hal ini selalu terjadi.
c.
Lidah
daun
Lidah daun terletak pada perbatasan
antara helai daun dan upih. Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada
varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun
adalah mencegah masuknya air hujan diantara batang dan pelepah daun (upih).
Disamping itu lidah daun juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air
memudahkan penyebaran penyakit.
Daun yang
muncul pada saat terjadi perkecambahan dinamakan coleoptile. Coleoptile keluar
dari benih yang disebar dan akan memanjang terus sampai permukaan air.
Coleoptile baru membuka, kemudian diikuti keluarnya daun pertama, daun kedua
dan seterusnya hingga mencapai puncak yang disebut daun bendera, sedangkan daun
terpanjang biasanya pada daun ketiga. Daun bendera merupakan daun yang lebih
pendek daripada daun-daun di bawahnya, namun lebih lebar dari pada daun
sebelumnya. Daun bendera ini terletak di bawah malai padi. Daun padi mula-mula
berupa tunas yang kemudian berkembang menjadi daun. Daun pertama pada batang
keluar bersamaan dengan timbulnya tunas (calon daun) berikutnya. Pertumbuhan
daun yang satu dengan daun berikutnya (daun baru) mempunyai selang waktu 7
hari,dan 7 hari berikutnya akan muncul daun baru lainnya.
4.
Bunga
Sekumpulan
bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas dinamakan malai.
Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan sumbu
utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai
tergantung pada varietas padi yang ditanam dancara bercocok tanam. Dari sumbu
utama pada ruas bukuyang terakhir inilah biasanya panjang malai (rangkaian
bunga) diukur. Panjang malai dapat dibedakan menjadi 3 ukuran yaitu malai pendek
(kurang dari 20 cm), malai sedang (antara 20-30 cm), dan malai panjang (lebih
dari 30cm). Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 15-20 buah, yang
paling rendah 7 buah cabang, dan yang terbanyak dapat mencapai 30 buah cabang.
Jumlah cabang ini akan mempengaruhi besarnya rendemen tanaman padi varietas
baru, setiap malai bisa mencapai100-120 bunga.
Bunga padi
adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis
dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya
pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung serbuk. Putik
mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai
dengan warna pada umumnya putih atau ungu. (Departemen Pertanian, 1983)
Komponen-komponen
(bagian) bunga padi adalah:
a.
Kepala
sari
b.
Tangkai
sari
c.
Belahan
yang besar (Palea)
d.
Belahan
yang kecil (Lemma)
e.
Kepala
putik
f.
Tangkai
bunga
5.
Buah
Buah padi
yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/gabah,sebenarnya bukan biji
melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea.
Buah ini terjadi setelah selesai penyerbukkan dan pembuahan. Lemma dan palea serta
bagian lain yang membentuk sekam atau kulit gabah.
2.2.4
Syarat Tumbuh
Tanaman
padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap
air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan
distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar
1500-2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 °C. Tinggi
tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0-1500 m dpl. Tanah yang
baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi
pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam
jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan
lapisan atasnya antara 18-22 cm dengan pH antara 4-7.
2.2.5
Budidaya Tanaman Padi
Teknik
bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai
dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan
persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan
tanaman hingga berbuah ini harus dipelihara yang baik, terutama harus
diusahakan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang sering
kali menurunkan produksi.
1.
Persemaian
Membuat persemaian merupakan langkah
awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang
sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi
di sawah, oleh karena itu persemian harus benar-benar mendapat perhatian, agar
harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat tercapai.
2.
Persiapan
dan Pengolahan Tanah Sawah
Pengolahan tanah bertujuan mengubah
keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah
(struktur tanah) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah
terdiri dari beberapa tahap :
a.
Pembersihan
b.
Pencangkulan
c.
Pembajakan
d.
Penggaruan
e.
Perataan
3.
Penanaman
Dalam
penanaman bibit padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah :
a.
Persiapan
lahan. Tanah yang sudah diolah dengan cara yang baik, akhirnya siap untuk
ditanami bibit padi.
b.
Umur
bibit. Bila umur bibit sudah cukup sesuai dengan jenis padi, bibit tersebut
segera dapat dipindahkan dengan cara mencabut bibit.
c.
Tahap
penanaman. Tahap penanaman dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1)
Memindahkan
bibit. Bibit dipesemaian yang telah berumum 17-25 hari (tergantung jenis
padinya, genjah/dalam) dapat segera dipindahkan kelahan yang telah disiapkan.
2)
Menanam.
Dalam menanam bibit padi, hal- hal yang harus diperhatikan adalah sistem
larikan (cara tanam), jarak tanam, hubungan tanaman, jumlah tanaman tiap
lobang, kedalam menanam bibit, cara menanam.
4.
Pemeliharaan
a.
Penyulaman
dan penyiangan
Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam penyulaman yaitu bibit yang digunakan harus jenis yang sama,
bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu, penyulaman tidak
boleh melelewati 10 hari setelah tanam, selain tanaman pokok (tanaman
pengganggu) supaya dihilangkan.
b.
Pengairan
Pengairan disawah dapat dibedakan
menjadi pengairan secara terus-menerus dan pengairan secara piriodik.
c.
Pemupukan
Tujuannya adalah untuk mencukupi
kebutuhan makanan yang berperan sangat penting bagi tanaman baik dalam proses
pertumbuhan/produksi.
2.3
Pengendalian Hama dan
Penyakit Tanaman Padi
2.3.1
Hama
Tanaman Padi
1. Wereng
penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi
berpunggung putih (Sogatella furcifera). Merusak dengan cara mengisap cairan
batang padi. Saat ini hama wereng paling ditakuti oleh petani di Indonesia.
Wereng ini dapat menularkan virus.
Gejala: tanaman
padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar, tanaman
yang tidak mengering menjadi kerdil.
Pengendalian: (1)
bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, 48, IR
64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti
laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemportan insektisida Applaud 10
WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.
2. Wereng
penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N.
impicticep).
Merusak dengan
cara mengisap cairan daun.
Gejala: di
tempat bekas hisapan akan tumbuh cendawan jelaga, daun tanaman kering dan mati.
Tanaman ada yang menjadi kerdil, bagian pucuk berwarna kuning hingga kuning
kecoklatan. Malai yang dihasilkan kecil.
Pengendalian: (1)
bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, 48, IR
64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti
laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemportan insektisida Applaud 10
WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.
3. Walang
sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah
padi yang masak susu. Gejala: dan menyebabkan buah hampa atau berkualitas
rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat
bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.
Imago/Dewasa
-
Panjang 14-17 mm
-
Bersayap dan warna coklat
-
Serangga betina mampu bertelur 200-300
butir dan diletakkan secara berkelompok berbentuk baris
Telur
-
Bentuk pipih lonjong
-
Panjang 1 mm
-
Warna telur putih, menjelang menetas warna
coklat tua atau agak hitam.
Nimfa
-
Bentuk ramping
-
Sayap kanan berkembang penuh
-
Warna hijau terang berubah abu-abu.
Dinamika
Populasi
-
Siklus hidup walang sangiit 35-56 hari
-
Imago aktit pagi dan sore hari
-
Waktu siang hari bersembunyi dibawah
tanaman atau rerumputan
-
Bila diganggu mngeluarkan bau khas
-
Walang sangit menyerang padi fase masak
susu
-
Kepadatan populasi meningkat pada
kondisi tanaman sedang berbunga, cuaca hangat dan gerimis
-
Hujan lebat dapat menurunkan populasi.
Kerusakan
-
Walang sangit menyerang padi fase masak
susu dengan mengisap cairan biji padi
-
Bekas tusukan berupa bercak berwarna
gelap
-
Padi yang terserang walang sangit
bobotnya menurun bahkan menjadi hampa.
Musuh
alami
-
Parasitoid telur : Gryon nixoni dan
Ooencyrtus malayensis
-
Predator : Conocephalus longipenis
-
Jamur patogen : Beauveria bassiana
Pengendalian: (1)
bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan dan memunahkan telur,
melepas musuh alami seperti jangkrik; (2) menyemprotkan insektisida Bassa 50
EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC.
4. Kepik
hijau (Nezara viridula)
Menyerang batang
dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi
yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman
terganggu. Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telur-
telurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75 WP.
5. Penggerek
batang padi terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata),
kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu (Sesamia
inferens).
Dapat
menimbulkan kerugian besar. Menyerang batang dan pelepah daun.
Gejala: pucuk
tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut, daun mengering dan
seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda disebut hama “sundep” dan
pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut “beluk”.
Pengendalian: (1)
menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan lingkungan, menggenangi
sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati, membakar jerami; (2)
menggunakan insektisida Curaterr 3G, Dharmafur 3G, Furadan 3G, Karphos 25 EC,
Opetrofur 3G, Tomafur 3G.
6. Hama
tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi
akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan
menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda
(1-2 bulan) dan buah.
Gejala: adanya
tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak
tidak ada tanaman.
Pengendalian: pergiliran
tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung
hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan
umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras.
7. Burung
(manyar Palceus manyar, gelatik Padda aryzyvora, pipit Lonchura
lencogastroides, peking L. puntulata, bondol hitam L. ferraginosa dan bondol
putih L. ferramaya).
Menyerang padi
menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.
Pengendalian: Mengusir
dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.
8. Keong
Mas (Pomacea Caniliculata)
Keong mas
memakan tanaman padi muda yang baru ditanam serta dapat menghancurkan tanaman
pada saat pertumbuhan awal. Serangan keong mas yang parah dapat mengakibatkan
tanaman padi yang baru di tanam habis total. Saat-saat penting untuk
mengendalikan keong mas adalah pada 10 hari pertama untuk padi tanam pindah dan
sebelum tanaman berumur 21 hari pada sistem tabela (tanam benih secara
langsung). Setelah umur tersebut, tingkat pertumbuhan tanaman biasanya lebih
tinggi daripada tingkat kerusakan akibat keong.
Siklus hidup
1. Telur
:
-
Masa bertelur sampai menetas 7-14 hari
2. Masa
Pertumbuhan :
-
Pertumbuhan awal 15-25 hari
-
Pertumbuhan lanjut 26-59 hari
3. Dewasa
:
-
Masa berkembangbiak 60 hari sampai 3
bulan
Biologi
:
-
Hidup di air
-
Dapat bertahan hidup 6 bulan didalam
tanah kering selama musim kemarau dan aktif kembali pada musim hujan.
-
Keong Mas dewasa dapat bertahan hidup
lebih dari 3 tahun
-
Setiap bulan Keong Mas dapat menghasilkan
1000 butir telur
-
Keong Mas merusak tanaman padi umur 1 -3
minggu setelah tanam
Pengendalian
:
-
Memasang pagar plastic
-
Menanam bibit berumur tua untuk IR 64 :
25 hari ; Cisadane : 30 hari (menanam bibit terlalu tua jumlah anakan sedikit)
-
Menanam bibit 3-7 tunas per rumpun
(terlalu banyak tunas per rumpun pemborosan benih)
-
Memasang saringan di saluran irigasi
-
Menancapkan bambu untuk bertelur (setelah
terkumpul dimusnahkan)
-
Membuat parit agar keong mas berkumpul
-
Memasukkan bebek kesawah setelah umur
padi mencapai 35 hari
-
Menaburkan daun kencur di lokasi yg
terserang keong mas
-
Memungut Keoang Mas untuk :
a. Dimasak
sebagai hidangan
b. POC
(Pupuk Organik Cair)
c. MOL
(Mikro Organisme Lokal)
d. Tambahan
pakan ternak
9. Kepinding
Tanah ( Scotinophora coarctata )
Imago/Serangga
Dewasa
-
Warna coklat kehitaman dan bila terganggu
berbau khas menyengat
-
Lama bertelur 12-17 hari setelah kawin.
-
Umur imago 4-7 bulan
hal ini disebabkan oleh umur inang, makin tua tanaman serangga
makin berkembang dengan baik
Telur
-
Bentuk telur lonjong, berwarna merah
jambu kehijau-hijauan
-
Letak telur berkelompok pada pangkat
rumpun padi
-
Stadium telur 4-7 hari.
Nimfa
-
Warna nimfa coklat kekuningan.
-
Tidak bersayap.
-
Stadium nimfa 20-30 hari.
Dinamika
populasi
-
Serangga dewasa mampu hidup dan berkembangbiak
selama 2 musim.
-
Waktu musim kemarau serangga dewasa
dapat bertahan pada bongkahan tanah yang berumput.
-
Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke
pertanaman dalam jumlah besar (lebih menyukai keadaan basah dan lembab)
-
Serangga dewasa menyukai intensitas
cahaya yang tinggi dan mudah ditangkap pada saat bulan purnama.
-
Tanaman inang : Panicum, jagung Sceleria,
Scirphus dan padi liar.
-
Kepinding tanah menyerang pada
bagian batang padi.
Pengendalian
-
Pembajakan tanah segera setelah panen
untuk mematikan telur, nimfa dan dewasa yang tinggal pada pangkal padi.
-
Pengeringan lahan sawah untuk menghambat
perkembangan.
-
Sanitasi lahan dan lingkungan dari
tumbuhan inang rerumputan
Musuh
alami
-
Parasitoid telur : Scelionid
-
Predator telur ; Katak dan kadal
-
Predator telur,nimfa dan dewasa adalah
kumbang Carabidae
2.3.2
Penyakit
Tanaman Padi
1. Penyakit
Bercak Coklat Pada Daun Padi
Penyakit ini
disebabkan oleh jamur Helmintosporium Oryzae.
Gejala penyakit
ini adalah adanya bercak coklat pada daun berbentuk oval yang tersebar merata
di permukaan daun dengan titik abu-abu atau putih. Titik abu- abu atau putih di
tengah bercak meruapakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapang.
Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat.
Pada varietas yang peka panjang bercak dapat mencapai 1 cm. Pada serangan berat
jamur dapat menginfeksi gabah dengan gejala bercak warna hitam atau coklat
gelap pada gabah. Jamur H. oryzae menginfeksi daun baik melaui stomata maupun
menembus langsung dinding sel epidermis setelah membentuk apresoria, Konidia
lebih banyak dihasilkan bercak yang sudah berkembang(besar) kemudian konidia di
hembuskan oleh angin dan menginfeksi secara sekunder. Jamur dapat bertahan
sampai 3 tahun pada jaringan tanaman dan lamanya bertahan sangat dipengaruhi
lingkungan. Selain gejala di atas gejala lainnya yaitu menyerang pelepah, malai,
buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak
coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan
kecambah mati.
Pengendalian: (1)
membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani,
Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif
dan fase pembentukan bulir; (2) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC,
Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
2. Blast
Penyebab: jamur
Pyricularia oryzae.
Gejala:
menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn
daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk.
Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
Pengendalian: (1)
membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani,
Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif
dan fase pembentukan bulir; (2) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene
50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
3. Penyakit
garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)
Penyebab: jamur
Cercospora oryzae.
Gejala:
menyerang daun dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit
memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian
biji terhambat.
Pengendalian: (1)
menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam
larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX
200.
4. Busuk
pelepah daun
Penyebab: jamur
Rhizoctonia sp.
Gejala:
menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah
membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini
tidak terlalu merugikan secara ekonomi.
Pengendalian: (1)
menanam padi tahan penyakit ini; (2) menyemprotkan fungisida pada saat
pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
5. Penyakit
fusarium
Penyebab: jamur
Fusarium moniliforme.
Gejala:
menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat
ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak
terlalu parah.
Pengendalian: merenggangkan
jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri.
6. Penyakit
noda/api palsu
Penyebab: jamur
Ustilaginoidea virens.
Gejala: malai dan
buah padi dipenuhi spora, dalam satu malai hanya beberapa butir saja yang
terserang. Penyakit tidak menimbulkan kerugian besar.
Pengendalian: memusnahkan
malai yang sakit, menyemprotkan fungisida pada malai sakit.
7. Penyakit
kresek/hawar daun
Penyebab: bakteri
Xanthomonas campestris pv oryzae)
Gejala:
menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun,
garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati.
Serangan menyebabkan gagal panen.
Pengendalian: (1)
menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara,
menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan; (2) pengendalian kimia dengan
bakterisida Stablex WP
8. Penyakit
bakteri daun bergaris/Leaf streak
Penyebab:
bakteri X. translucens.
Gejala:
menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis basah berwarna merah kekuningan
pada helai daun sehingga daun seperti terbakar.
Pengendalian:
menanam varitas unggul, menghindari luka mekanis, pergiliran varitas dan
bakterisida Stablex 10 WP.
9. Penyakit
kerdil
Penyebab: virus ditularkan
oleh serangga Nilaparvata lugens.
Gejala:
menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau
kekuning- kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi
kecil. Penyakit ini sangat merugikan.
Pengendalian:
sulit dilakukan, usaha pencegahan dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang
terserang ada memberantas vector
10. Penyakit
tungro
Penyebab: virus
yang ditularkan oleh wereng Nephotettix impicticeps.
Gejala:
menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna, daun
kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda, malai
kecil dan tidak berisi.
Pengendalian: menanam
padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42.
BAB III METODE KUNJUNGAN LAPANGAN
3.1
Waktu dan Tempat
Kami observasi
ke dareah cikagagak, tepatnya jalan pesantren, kelurahan cipadung kecamatan
cibiru kota bandung. Koordinat 107° BT and 6° 55’ LS. Pada tanggal 24 September
2014.
3.2
Alat dan Bahan
Alat yang dipergunakan dalam
pengamatan adalah pensil dan buku catatan sebagai alat bantu wawancara. Serta
Handphone sebagai alat bantu dokumentasi dan observasi.
3.3
Metode Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan cara
wawancara, observasi langsung di dareah
cikagagak, tepatnya jalan pesantren, kelurahan cipadung kecamatan cibiru kota
bandung.
4.2
Pembahasan
4.2.1
Hama Tanaman Padi
1.
Hama
putih (Nymphula depunctalis)
Gejala : Menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik
yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi.
2.
Wereng
Penyerang batang padi : Wereng padi coklat (Nilaparvata
lugens), Wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera). Wereng penyerang
daun padi : Wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N.
impicticep). Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi dan dapat
menularkan virus.
Gejala : Tanaman padi menjadi kuning dan mengering,
sekelompok tanaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi
kerdil.
3.
Walang
sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang masak susu.
Gejala : Buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut,
berwarna coklat dan tidak enak, pada daun terdapat bercak bekas isapan dan
bulir padi berbintik-bintik hitam.
4.
Ulat
Gejala serangan:
§ Aktif memakan dedaunan bahkan
pangkal batang, terutama pada malam hari.
§ Daun yang dimakan oleh ulat hanya
tersisa rangka atau tulang daunya saja.
§ Daun digulungkan sebagai sarangnya
5.
Hama
tikus (Rattus argentiventer).
Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan
pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
6.
Burung
Menyerang menjelang panen, tangkai buah patah, biji
berserakan. Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.
7.
Belalang
Daun
biasanya bagian pertama yang diserang. Hampir keseluruhan daun habis termasuk
tulang daun, jika serangannya parah.Spesies ini dapat pula memakan batang dan
tongkol jagung jika populasinya sangat tinggi dengan sumber makanan terbatas.
4.2.1.1
Pengendalian Hama Tanaman Padi di Lapangan
Pengendalian yang dilakukan pada
tanaman padi di lapangan adalah menggunakan pestisida. Pestisida itu
diantaranya adalah :
1.
Score
Tujuan
pestisida ini yaitu untuk membunuh ulat padi yang sudah menggulung daun, selain
itu pestisida ini membunuh belalang juga. Pemberian pestisida ini pada saat
fase pertumbuhan sekitar 15-30 hari.
2.
Decis
Tujuan
pestisida ini untuk mengendalikan walang sangit, kutu kuya, belalang, dan putih
palsu. Pemberian pestisida ini pada saat sedang bunting (mulai mekar) sampai
pada saat mekar.
3.
Spontan 400
Tujuan
pemberian pestisida ini untuk mengendalikan wereng coklat. Diberikan pada saat
dimana butiran padi mulai mengisi sampai mengisi penuh.
Pemberian pestisida di atas tidak
menggunakan dosis, karena petani ingin selalu puas dalam mendapatkan hasil
produksinya. Selain menggunakan pestisida petani yang kami observasi juga
melakukan pengendalian secara mekanis dainataranya :
1.
Pengendalian hama tikus cukup dilakukan
dengan pengeringan lahan dan tidak melakukan irigasi dengan cara penggenangan
apabila tikus yang menyerang sangat banyak.
2.
Pengendalian hama burung tidak dilakukan
karena tidak terlalu banyak.
4.2.2
Penyakit Tanaman Padi
1. Penyakit
Bercak Coklat pada Daun Padi
Penyakit ini
disebabkan oleh jamur Helmintosporium Oryzae, gejala penyakit ini adalah adanya
bercak coklat pada daun berbentuk oval yang tersebar merata di permukaan daun
dengan titik abu-abu atau putih.
4.2.2.1
Pengendalian Penyakit Tanaman di Lapangan
Pengendalian penyakit ini menggunakan pestisida
yaitu :
1.
Booster
Dilakukan pada
saat dimana butiran padi mulai mengisi sampai mengisis penuh. Tujuannya untuk
menjaga bulir padi supaya tidak hampa (kosong) dan mengendalikan bercak pada
daun padi. Petani tidak memeberikan dosis terhapad pemberiannya.
4.2.3
Konsep PHPT di Lapangan
Kami melakukan observasi kepada petani langsung yang
berada di dareah cikagagak, Dalam observasi yang kami
lakukan, petani tersebut tidak menggunakan konsep PHT bahkan tidak mengetahui
konsep PHT tersebut. Konsep PHT tidak dipakai dengan alasan efeknya akan lama
dan takutnya penyerangan semakin banyak.
Karena konsep PHT tidak dipakai, jadi ambang ekonomi
tidak dipakai juga dan petani lebih baik menjaga daripada harus mengobati
dengan cara setiap ada penyerangan oleh hama, tanaman langsung diberikan
pestisida. Petani yang kami observasi sudah mengetahui tanda-tanda serangan
hama pada tanaman padi tersebut dan langsung melakukan tindakan untuk menjaga
kerugian produksi dengan menggunakan pestisida.
Dari observasi yang kami lakukan, akumulasi produksi
tanaman padi yang diserang hama dan penyakit adalah sebagai berikut :
1. Penyerangan
sedikit (bagus), produksi bisa mencapai kurang lebih sekitar 7-6 kuintal per
100 bata.
2. Penyerangan
tidak terlalu banyak atau sedang (normal), produksi bias mencapai kurang lebih
sekitar 4 kuintal per 100 bata.
3. Penyerangan
banyak sekali (tidak normal), produksi bias mencapai kurang kebih sekitar 3
kuintal per 100 bata dan ini artinya tanaman padi gagal panen.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Dari laporan observasi ini dapat disimpulkan bahwa :
1.
Hama pada penyakit tanaman
padi yang kami ada observasi ada 7 yaitu hama tikus, burung, belalang, wereng
coklat, walang sangit, ulat, dan putih palsu/hama putih. Sedangkan untuk
penyakit pada tanaman padi yang diobservasi, kami hanya menemukan 1 penyakit yaitu
penyakit bercak coklat pada daun padi.
2.
Petani tanaman padi yang
kami observasi tidak melakukan konsep PHT dengan alasan efeknya lama dan petani
lebih baik mencegah daripada mengobati. Pada observasi ini tidak menggunakan
ambang ekonomi dan aras luka ekonomi tidak terjadi.
5.2
Saran
Dari laporan observasi ini kami menyarankan :
1.
Sebaiknya dalam penggunaan
pestisida menggunakan takaran dan dosis agar kerja pestisida bisa maksimal.
2.
Sebaiknya petani mulai
menggunakan konsep PHT untuk menjaga keseimbangan dan ekosistem yang ada di
daerah tanaman tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Marwoto, dkk. 2009. Diagnosis ledakan populasi hama kutu kebul Bemisia tabaci pada
pertanaman kedelai.Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian
Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian : Kementrian Pertanian Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
Tjahjadi, Ir. Nur. 1989. Hama dan
Penyakit Tanaman. Yogyakarta : Kanisius.
Ir. Pracaya. 2007. Hama dan
Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya : Depok
Surachman, Enceng, dkk. 2007. Hama
Tanaman, Pangan, Hortikultura dan Perkebunan. Kanisius : Yogyakarta.
No comments:
Post a Comment